Masuk

Ingat Saya

Merusak Islam dari Dalam

Merusak Islam dari Dalam

NU dan Muhamadiyah adalah garda terakhir penjaga NKRI. JIka keduanya lenyap, ‎atau berganti ideologi, lenyap pula NKRI. Pernyataan ini seolah mengecilkan ‎keberadaan aparat penegak hukum. Tapi faktanya, Zaskia Gotik langsung diseret ‎ke meja hukum ketika melecehkan Pancasila, sementara Abu Jibril, Habib Rizieq ‎dan pemuka ormas anarkis lain tetap bebas melenggang. Padahal mereka jelas-‎jelas menolak NKRI sebagai sebuah negara yang utuh dan menghendaki paham ‎lain. Polisi mana berani menindak FPI yang melanggar hukum semena-mena? ‎Tentara yang digambarkan gahar mana sanggup membungkam HTI, FUI yang anti ‎pancasila?‎

NU dan Muhamadiyah ini terus diserang, dikepung dari segenap penjuru. Jika di ‎jaman Soeharto perpecahan dilakukan dengan menyusupkan pengacau di tubuh ‎organisasi, di era bebas berpendapat ini, mutilasi dilakukan dari luar. Brainwash ‎dan pemelintiran ayat suci dijadikan senjata. Anak-anak muda yang tak paham ‎agama berani melawan kiai sepuh yang luas ilmunya. Di satu sisi mereka ‎membenci komunisme, di sisi lain mereka juga anti pancasila.‎

Kita tiba di suatu masa, di mana logika dijungkir-balikkan. Adik-adik yang manis ‎dari Unair Surabaya berdemo menghendaki pemberlakuan khilafah. Mereka tidak ‎tahu, tatanan kenegaraan yang mereka kehendaki meniadakan kebebasan ‎berpendapat. Apapun yang membahayakan bagi seorang khalifah langsung ‎dibunuh. Perempuan dilarang eksis, mereka bahkan tidak berkuasa atas tubuh ‎mereka sendiri. Mereka ada tapi dianggap tiada. Hidupnya dibatasi sekian aturan ‎ketat. Jangankan bisa berorasi di jalanan, menyetir mobil saja sulit dilakukan.‎

Sementara itu adik-adik di Jakarta yang mengatasnamakan diri Gema ‎Pembebasan Jakarta Raya menggeruduk istana. Tuntutan mereka menghendaki ‎pembubaran Densus 88 serta mengadilinya. Mereka tidak belajar dari banyak ‎kasus bom. Bahkan teroris yang berbahaya bernama Santoso masih berkeliaran. ‎Terorisme musuh semua negara di dunia. Dengan adanya pasukan khusus saja, ‎tindakan teror masih saja terjadi. Korban bergelimpangan di mana-mana. Mereka ‎yang mati itu manusia. Mereka punya anak, punya keluarga.‎

Radikalisme yang dikobarkan oleh ormas bersumbu pendek ini mencoreng wajah ‎islam. Di luar sana, teroris ISIS membuat ribuan orang mengungsi. Orang-orang ‎malang itu tidak pergi ke negara muslim, tapi justru ke Eropa. Ke negara yang ‎disebut oleh ormas anarkis sebagai negara kafir. Negara yang sama sekali tak ‎mengenal kata khilafah. Nasib mereka bertambah sial karena beberapa kali bom ‎meledak di negara-negara Eropa. Teroris yang berbuat, tapi umat islam seluruh ‎dunia yang terkena aibnya. Akibatnya beberapa negara Eropa mulai menolak ‎kehadiran pengungsi Suriah karena takut disusupi teroris.‎

Dari sini kita belajar, islam tidak dirusak dari luar, tapi oleh pemeluknya sendiri. ‎Mereka yang gemar mengkafirkan dan menyesatkan sesama muslim. Mereka ‎yang suka menyebarkan fitnah dan adu domba sunni-syiah. Mereka yang malu ‎dengan jati diri bangsanya dan hidup dalam ilusi kearab-araban. Mereka yang ‎mengganti ajaran kasih sayang dengan kebencian dan kekerasan,‎

Barangkali umat beragama lain di Indonesia banyak yang mengira bahwa islam ‎memang mengajarkan anarkisme. Buktinya, kata-kata jihad sering dikonotasikan ‎dengan pertumpahan darah. Padahal garda terakhir NKRI, NU dan Muhamadiyah, ‎terus melawan fundamentalisme. Banyak anak muda yang hanya mendengar ‎pengajian di emperan kampusnya, mendadak berani mendebat orang tuanya ‎sendiri. Mereka terang-terangan mengajari orang tuanya bagaimana beragama ‎yang kaffah. Larangan beribadah diberlakukan. Sedikit-sedikit, kafir, sesat, ‎murtad, bidah.‎ Jika pada orang yang melahirkan dan membesarkan saja mereka demikian ‎amoral, apalagi dengan yang lain?‎

Peperangan itu terus terjadi siang dan malam. Orang-orang yang merasa paling ‎bersih, paling beriman, paling agamis, paling berhak masuk surga sebenarnya ‎tidak sedang membela islam, apalagi membela Tuhan. Karena Tuhan yang maha ‎segala-galanya tak butuh pembelaan. Sejatinya prilaku anarkis itu sedang ‎mengkapanyekan satu hal, “mari merusak islam dari dalam!”‎

ibnumudzi
Dengan